Bubur Syura, Tradisi 10 Muharram yang Masih Hidup di Sulawesi Selatan

MAKASSAR, KORANSULSEL – Masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis dan Makassar, masih setia melestarikan tradisi Bubur Syura setiap tanggal 10 Muharram. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga simbol kebersamaan dan kepedulian sosial yang tetap mengakar kuat di tengah masyarakat.

Pemerhati Komunikasi Antarbudaya dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Dr H. Hatita, menjelaskan bahwa Bubur Syura merupakan warisan budaya Islam yang diwariskan secara turun-temurun.

“Tradisi ini mencerminkan solidaritas dan keakraban di antara warga. Mereka berkumpul, berdoa, dan berbagi makanan sebagai bentuk kebersamaan,” ujarnya, Minggu (7/7/2025).

Rangkaian kegiatan biasanya dimulai sejak pagi hari. Warga menyiapkan Bubur Syura dari beras, santan, dan aneka topping khas. Proses memasaknya dilakukan bersama keluarga atau komunitas, kemudian dibagikan ke tetangga, kerabat, hingga masyarakat sekitar usai doa dan zikir bersama di rumah atau masjid.

Rahmatia, warga Kota Makassar, menyebut Bubur Syura membawa dampak positif dalam membangun relasi sosial di lingkungannya. “Tradisi ini mengajarkan kita untuk berbagi. Setelah doa bersama, semua orang dapat bubur, tanpa terkecuali,” tuturnya.

Menurutnya, semangat gotong royong dalam tradisi ini menjadi penguat kesetiakawanan sosial. “Dari menyiapkan bahan, memasak, hingga membagikan bubur, semua dilakukan bersama-sama. Ini bentuk nyata kolaborasi dan rasa saling peduli,” tambahnya.

Meski zaman terus berubah, Bubur Syura tetap menjadi cermin kekuatan budaya dan nilai-nilai Islam yang hidup di tengah masyarakat Sulawesi Selatan. (ant/KS)

READ  Polrestabes Makassar Sita Rp2,3 Miliar Uang Narkoba, Bongkar Jaringan Internasional
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img

BERITA POPULER