Menelisik Energi Hijau dari Pete-pete Makassar yang Bertahan di Tengah Zaman

MAKASSAR – Di tengah riuh lalu lintas Kota Makassar yang semakin padat oleh kendaraan pribadi dan transportasi daring, suara mesin angkot atau “pete-pete” masih sesekali terdengar melintas di jalanan kota. Tidak lagi seramai dulu, tidak lagi menjadi primadona mobilitas warga, tetapi tetap bertahan di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat.

Pete-pete kini seperti serpihan nostalgia kota. Ia masih ada, namun berjalan pelan di sela modernisasi transportasi. Namun di balik sepinya penumpang dan kondisi armada yang mulai menua, muncul cerita baru tentang bagaimana para sopir mencoba bertahan hidup dengan cara mereka sendiri.

Di kawasan Sudiang, tak jauh dari Asrama Haji Makassar, sejumlah pete-pete kini menggunakan tabung elpiji 3 kilogram sebagai bahan bakar pengganti bensin. Praktik ini dilakukan diam-diam, lahir bukan dari proyek teknologi ramah lingkungan, melainkan tekanan ekonomi yang semakin berat.

Salah satu sopir, Yunus, mengaku memilih menggunakan gas elpiji karena biaya operasional jauh lebih murah dibandingkan bensin.

“Kalau pakai bensin bisa habis Rp200 ribu sehari. Kalau gas sekitar Rp80 ribu,” ujarnya.

Selisih itu menjadi ruang bertahan bagi penghasilan yang terus tergerus sepinya penumpang. Dalam satu jam, kadang hanya satu atau dua orang yang naik. Lebih sering, pete-pete hanya terparkir menunggu tanpa kepastian.

Menariknya, Yunus belajar sendiri mengubah sistem bahan bakar kendaraannya. Ia mempelajari berbagai video di YouTube, mencoba memasang instalasi secara mandiri, lalu perlahan menjadi rujukan bagi sopir pete-pete lainnya.

Tanpa pelatihan resmi, tanpa sertifikasi, dan tanpa pengawasan, praktik itu menyebar dari mulut ke mulut.

Di satu sisi, penggunaan gas memang dianggap lebih ramah lingkungan karena mampu menekan emisi kendaraan. Namun di sisi lain, penggunaan tabung elpiji subsidi untuk kendaraan menyimpan risiko keselamatan yang besar.

READ  Bawaslu Telaah Pelanggaran TSM pada Pilkada 2024

Dosen Teknik Mesin Universitas Negeri Makassar, Muhammad Farid, mengingatkan sistem bahan bakar gas memerlukan standar keselamatan ketat. Kesalahan kecil dalam instalasi dapat memicu kebocoran hingga ledakan.

Sementara itu, pihak Pertamina menegaskan elpiji 3 kilogram diperuntukkan bagi kebutuhan rumah tangga dan bukan untuk kendaraan bermotor.

Meski begitu, di lapangan praktik ini terus berlangsung. Para sopir tidak sedang berbicara soal dekarbonisasi atau transisi energi hijau. Mereka hanya mencari cara agar dapur tetap menyala.

Pengamat transportasi Universitas Hasanuddin, Ir Lambang Basri ST MT PhD, menilai fenomena ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk menghadirkan solusi transportasi publik yang murah, aman, dan berkelanjutan.

Menurutnya, transisi menuju energi bersih tidak bisa dibebankan kepada masyarakat kecil tanpa dukungan teknologi dan regulasi yang jelas.

Di bawah rindangnya pohon di kawasan Sudiang, pete-pete tua itu masih menunggu penumpang. Di dekat kaki sopirnya, tabung gas melon tetap terpasang, menjadi simbol sederhana tentang perjuangan bertahan hidup di tengah perubahan zaman.

Sebab bagi sebagian orang, energi hijau bukan sekadar wacana pengurangan emisi. Ia adalah soal bagaimana hidup bisa terus berjalan esok hari. (ant/MK)

Editor: Agus S

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img

BERITA POPULER