BONE, KORANSULSEL – Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menggandeng organisasi CIFOR-ICRAF Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kanada untuk mengembangkan Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) bertema Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim. Kurikulum ini ditujukan bagi siswa SD dan SMP sebagai upaya menanamkan kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan dan perubahan iklim sejak dini.
Research Delivery Team Coordinator CIFOR-ICRAF Indonesia, Arizka Mufida, menjelaskan bahwa kurikulum ini merupakan bagian dari program riset-aksi Land4Lives yang menargetkan integrasi pengetahuan lokal ke dalam sistem pendidikan formal.
“Penguatan pendidikan melalui Mulok ini bertujuan mengenalkan keragaman pangan lokal, cara membudidayakan dan mengolahnya, serta memahami dampak perubahan iklim terhadap sistem pangan,” ujar Arizka dalam diskusi virtual, Kamis (25/7).
Kurikulum Mulok ini dirancang untuk siswa Fase C (kelas 5 dan 6 SD) serta Fase D (kelas 7–9 SMP), dan disusun secara kolaboratif bersama tim pengembang kurikulum yang melibatkan unsur Dinas Pendidikan, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, serta fasilitator CIFOR-ICRAF.
Dokumen final yang dihasilkan mencakup Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), hingga perangkat ajar dan bahan ajar bagi guru. Pengajaran telah dimulai sejak Februari 2024 dan diuji coba di 31 sekolah pada November 2024. Hasil monitoring menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep pangan lokal, bahkan mendorong perubahan perilaku konsumsi di lingkungan sekolah.
Banyak siswa mulai mengapresiasi kekayaan pangan lokal, menerapkan prinsip B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, Aman) dalam bekal sekolah, hingga membuat kebun sekolah yang ditanami sayur dan tanaman pangan.
Wakil Bupati Bone, Andi Akmal Pasluddin, secara resmi meluncurkan kurikulum ini pada 23 Juli 2025 di Watampone. Namun, meski peluncuran telah dilakukan, penerapan penuh masih menunggu penguatan kebijakan daerah seperti terbitnya Peraturan Bupati (Perbup).
Arizka menambahkan bahwa kurikulum serupa juga sedang dikembangkan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (NTT) dan Provinsi Sumatera Selatan. Ia menegaskan bahwa pendekatan pendidikan ini penting karena perubahan iklim telah berdampak langsung terhadap ketersediaan dan akses pangan.
“Indonesia kaya akan pangan alternatif, tapi minimnya pengetahuan masyarakat tentang sumber pangan lokal menjadi tantangan besar. Melalui pendidikan formal, kita bisa merekam, melestarikan, dan membudidayakan kembali kekayaan ini sebelum hilang,” pungkasnya. (ant/KS)




