MAKASSAR, KORANSULSEL – Pakar arkeologi dari Universitas Hasanuddin, Prof Akin Duli, menyatakan bahwa penulisan sejarah nasional Indonesia sudah saatnya diperbarui secara komprehensif. Ia menilai, dalam dua dekade terakhir, banyak temuan ilmiah penting yang belum diakomodasi dalam narasi sejarah resmi Indonesia.
“Sejak pembaruan terakhir pada tahun 2008, belum ada upaya besar yang dilakukan untuk memperbarui sejarah nasional. Padahal, dalam 20 tahun terakhir, riset-riset baru dari berbagai disiplin ilmu telah menghasilkan banyak temuan penting,” ujar Prof Akin saat menerima kunjungan Komisi X DPR RI di Makassar, Kamis (3/7/2025).
Prof Akin yang dikenal sebagai penemu kerangka manusia purba ‘Besse’ di Sulawesi Selatan, menekankan bahwa sejarah bukan sesuatu yang statis. Narasi sejarah, menurutnya, harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya.
“Sejarah bukan hanya soal masa lalu, tapi juga cerminan pengetahuan hari ini. Kita butuh narasi sejarah yang inklusif, faktual, dan mewakili beragam perspektif,” ujarnya.
Wakil Rektor Bidang SDM, Alumni, dan Sistem Informasi Unhas, Prof Farida Patittingi, turut menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif penulisan ulang sejarah nasional. Ia menilai, pendekatan berbasis data dan metodologi ilmiah sangat penting untuk menghasilkan sejarah yang objektif dan akurat.
“Unhas ingin berkontribusi melalui pendekatan akademis dan kajian ilmiah. Banyak situs bersejarah yang ditemukan oleh peneliti kami, termasuk Situs Besse, yang dapat memperkaya narasi sejarah nasional,” kata Prof Farida.
Ia menambahkan, penulisan sejarah sebaiknya melibatkan para ahli dari berbagai bidang agar hasilnya lebih holistik dan representatif. “Diskusi hari ini menjadi langkah awal yang penting untuk membangun sejarah bangsa yang lebih utuh dan jujur,” tutupnya.
Kunjungan kerja Komisi X DPR RI ke Universitas Hasanuddin merupakan bagian dari rangkaian pengumpulan masukan akademik dan budaya untuk mendukung penulisan sejarah nasional Indonesia yang lebih akurat. Rombongan dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi X, Lalu Hadrian Irfani, dan diikuti oleh sejumlah anggota lainnya, termasuk I Nyoman Parta, Once Mekel, La Tinro La Tunrung, Andi Muawiyah Ramly, dan Ledia Hanifa Amaliah. (ant/KS)




