MAROS, KORANSULSEL – Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, mengaku terharu saat menyaksikan kemampuan salah satu anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Maros yang mampu menghafal tujuh juz Al-Qur’an. Momen itu terjadi dalam kunjungannya ke LPKA Maros sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN), Sabtu (2/8/2025).
“Saya terkesan dengan persembahan anak-anak kita. Bahkan ada yang hafal tujuh juz Al-Qur’an. Ini membuktikan bahwa pembinaan di sini berjalan baik dan potensi mereka tetap tumbuh,” ujar Fatmawati.
Saat ini, LPKA Maros membina 59 anak berusia 15 hingga 18 tahun. Dari jumlah tersebut, 33 anak tersangkut kasus perlindungan anak, 18 kasus pidana umum, 7 kasus narkotika, serta masing-masing satu kasus pelanggaran UU Kesehatan dan kejahatan mata uang. Sebagian besar dari mereka masih mengikuti pendidikan secara daring dan mengejar program kesetaraan paket A, B, dan C.
Fatmawati menegaskan bahwa kehadirannya di lembaga tersebut merupakan wujud nyata komitmen pemerintah untuk tidak meninggalkan satu pun generasi muda, termasuk mereka yang sedang menjalani pembinaan.
“Alhamdulillah, saya bisa hadir di tengah anak-anakku semua. Ini adalah bentuk komitmen dan kepedulian kami. Pemerintah tidak boleh membiarkan siapa pun tertinggal, apalagi generasi muda kita yang sedang dibina untuk kembali ke masyarakat,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur juga mengajak anak-anak binaan untuk menatap masa depan dengan semangat baru, tanpa terus dibayangi oleh masa lalu. Ia berharap pembinaan yang dijalani dapat menjadi titik balik bagi mereka untuk kembali ke masyarakat dengan lebih siap dan percaya diri.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyerahkan bantuan berupa satu unit mesin cuci, satu unit mesin jahit, satu unit laptop, serta perlengkapan olahraga seperti raket, bola voli, dan bola kaki guna mendukung kegiatan keterampilan dan olahraga di LPKA.
Adapun program pembinaan yang diterapkan di LPKA Maros mencakup berbagai aspek, mulai dari pendidikan kepribadian yang bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al Hidayah, konseling, pramuka, hingga pelatihan keterampilan seperti budidaya ikan, hidroponik, pembuatan sabun, boneka, manik-manik, dan bingkai kupu-kupu.
Namun demikian, tantangan masih dihadapi, terutama terkait keterbatasan tenaga pengajar, pelatih keterampilan, serta minimnya dukungan dari keluarga anak binaan.
“Kami berharap anak-anak kita bisa keluar dari sini dengan harapan baru dan kemampuan yang mereka butuhkan untuk membangun masa depan. Tugas kita semua adalah memastikan mereka punya jalan,” pungkas Fatmawati. (ant/KS)
Editor: Agus S




