MAKASSAR, KORANSULSEL – Pemerintah Kota Makassar bersama PT Pegadaian meluncurkan program inovatif pengelolaan sampah: menukar sampah menjadi tabungan emas. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sampah memiliki nilai ekonomi, sekaligus mendukung target zero waste pada 2029.
“Jadi sampah yang masih bernilai jual akan dikonversi menjadi saldo tabungan emas atas nama anggota bank sampah,” ujar Deputy Operasional Kantor Wilayah IV Pegadaian Makassar, Jainuddin, dalam kegiatan konsolidasi pengelolaan bank sampah, Minggu (13/7).
Hingga saat ini, Pegadaian telah membina 30 bank sampah di Kota Makassar. Sampah yang disetor akan dihitung nilainya, lalu ditukar menjadi saldo tabungan emas menggunakan sistem milik Pegadaian. Program ini juga melibatkan edukasi, pemberian fasilitas, hingga pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan.
“Target kita jelas: mengolah sampah, menabung emas, dan mendorong terwujudnya kota tanpa sampah. Program ini sudah kami jalankan sejak 2018 dan terus kami evaluasi agar lebih optimal,” kata Jainuddin.
Ia menyebutkan, sinergi dua arah antara Pegadaian dan bank sampah menjadi kunci keberhasilan program. Selain dukungan sarana dan prasarana, Pegadaian juga membuka ruang dialog untuk menemukan solusi dari berbagai kendala teknis maupun kelembagaan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, menilai kerja sama ini sebagai langkah strategis dalam memperluas pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.
“Kegiatan ini sangat penting untuk menurunkan volume sampah. Upaya seperti ini harus terus diperkuat dan diperluas,” tegasnya.
Helmy mencontohkan sejumlah inovasi lain seperti penggunaan enzim pengurai di sektor perhotelan, serta model insentif yang memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dari aktivitas pengelolaan sampah.
Menurutnya, kunci utama keberhasilan terletak pada perubahan perilaku masyarakat. Karena itu, Pemkot Makassar terus menggencarkan edukasi dan pelatihan agar kebiasaan memilah dan mengolah sampah tumbuh dari rumah tangga.
Sebagai tindak lanjut, konsolidasi ini akan dilanjutkan dengan penguatan kelembagaan bank sampah, pelatihan teknis, dan pemberian insentif agar program berjalan berkelanjutan.
“Harapan kami, masyarakat makin sadar bahwa sampah bukan hanya masalah, tapi juga peluang ekonomi,” tutup Helmy. (ant/KS)




