MAKASSAR, KORANSULSEL – Rektor Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) Prof Dr Laode M Kamaluddin MSc MEng, soroti peran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) serta ekonomi hijau saat membawakan kuliah umum di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Kamis.
Prof Kamaluddin menjelaskan tentang pentingnya penerapan kecerdasan buatan dalam pendidikan tinggi di Indonesia.
Menurut dia, era digital menuntut pergeseran budaya dari dunia nyata (konvensional) ke dunia maya (digital), dan bahwa kerja sama menjadi aspek penting dalam transformasi ini.
“Jika bonus demografi tidak dibarengi dengan kualitas dan kapasitas SDM yang baik, maka yang seharusnya menjadi peluang bisa berubah menjadi bencana. Kampus harus hadir merespon tantangan tersebut dan berdampak nyata bagi masyarakat,” kata Prof Kamaluddin.
Ia menjelaskan, faktor geografis Indonesia yang luas dan beragam menyulitkan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang efektif di seluruh wilayah. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan pendidikan tinggi yang dirancang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi di daerah pedesaan.
Prof Kamaluddin menyebut pendekatan ini sebagai rural bias education for rural industrialization yang menempatkan kecerdasan buatan sebagai alat penting untuk menjangkau dan mengembangkan potensi wilayah-wilayah terpencil.
“Jika kampus tidak memiliki dampak bagi masyarakat, maka eksistensinya akan dipertanyakan. Kita harus memastikan bahwa setiap teknologi, termasuk AI, memberi manfaat langsung bagi pembangunan wilayah, terutama desa-desa yang masih tertinggal,” ujarnya.
Prof Kamaluddin secara spesifik menegaskan pentingnya penguatan cyber security dan sistem digitalisasi di kampus sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Sementara Rektor Unhas Prof Dr Jamaluddin Jompa MSc, dalam sambutannya mengatakan transformasi digital bukan lagi pilihan, tetapi keharusan bagi perguruan tinggi.
Transformasi digital di Unhas bukan sekadar program biasa, melainkan sebagai bagian dari strategi besar dalam menyambut era kecerdasan buatan atau AI. Unhas telah membentuk unit khusus yang menangani transformasi digital sebagai respon atas laju perkembangan teknologi.
“Perkembangan saat ini berlangsung sangat cepat. Ke depannya, bukan hanya soal digitalisasi, tapi bagaimana kita bisa mengikuti kecepatan teknologi AI. Universitas harus mampu beradaptasi dan menjadi bagian dari pembangunan peradaban global,” kata Prof JJ.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, kolaborasi merupakan keharusan. Universitas besar dunia saat ini menjadi trendsetter karena mampu memanfaatkan teknologi dan menjalin kolaborasi lintas sektor. (ant/KS)




