KUPANG – Dalam sunyi yang dipertemukan oleh layar-layar digital, semangat intelektual dari timur Indonesia berpendar kuat. Seleksi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (PILMAPRES) tingkat wilayah LLDikti XV tahun 2026 resmi terselenggara selama dua hari, 23 hingga 24 April 2026, dalam balutan ruang virtual yang tak mengurangi makna, bahkan justru menegaskan daya lenting dunia akademik di tengah perubahan zaman.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala LLDikti XV, Prof. Adrianus Amheka. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa integritas adalah fondasi utama dalam setiap proses seleksi. Bahwa prestasi tidak semata diukur dari capaian akademik, melainkan juga dari kejujuran, etika, dan komitmen perguruan tinggi dalam mengawal nilai-nilai tersebut. Di tengah kompetisi, integritas menjadi cahaya penuntun—yang menjaga arah, sekaligus menentukan makna dari sebuah kemenangan.
Hari pertama dilanjutkan dengan technical meeting, sebuah ruang temu awal yang tidak sekadar membahas tata tertib dan mekanisme, tetapi juga merawat komitmen akan kejujuran dan sportivitas. Di sanalah fondasi diteguhkan—bahwa kompetisi ini bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang menjadi yang layak.
Memasuki hari kedua, Jumat (24/4), seleksi berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 14.30 WITA. Sepuluh mahasiswa terbaik dari berbagai perguruan tinggi di lingkungan LLDikti XV tampil membawa gagasan, suara, dan harapan. Mereka tidak hanya mempresentasikan capaian akademik, tetapi juga menyuarakan ide-ide segar—tentang masa depan, tentang kontribusi, tentang perubahan yang berakar dari pengetahuan.
Di balik layar, para juri menyimak dengan ketajaman nalar dan kedalaman pengalaman: Prof. Dr. Antonius Ola, Fidelis Nitti, Ph.D., Victorius P. Feka, serta Solaiman Mario yang juga mengemban amanah sebagai Ketua Panitia. Dengan perspektif akademik yang matang, mereka menilai bukan hanya apa yang tampak, tetapi juga apa yang tersirat—keteguhan berpikir, kepekaan sosial, dan keberanian menghadirkan solusi.
PIC Seleksi PILMAPRES 2026, Hasan Al Banna, menegaskan bahwa pelaksanaan secara virtual bukanlah keterbatasan, melainkan bentuk adaptasi yang mencerminkan kesiapan pendidikan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. “Kami tidak hanya menyeleksi yang terbaik, tetapi juga memastikan proses ini berlangsung dengan menjunjung tinggi integritas, objektivitas, dan kualitas. Dari sinilah kita berharap lahir representasi terbaik LLDikti XV yang mampu bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Panitia, Solaiman Mario, menyampaikan bahwa antusiasme dan kualitas peserta menjadi energi tersendiri dalam penyelenggaraan kegiatan ini. “Sepuluh peserta yang hadir bukan sekadar membawa prestasi, tetapi juga membawa gagasan dan harapan bagi daerah. Kami menyaksikan bagaimana potensi itu tumbuh, diuji, dan dipertemukan dalam ruang yang sama—meski terpisah jarak,” ungkapnya.
Apresiasi setinggi-tingginya juga disampaikan kepada 10 peserta dari 10 perguruan tinggi yang telah mengambil bagian dalam seleksi ini. Partisipasi mereka bukan sekadar keikutsertaan, melainkan wujud dedikasi, keberanian, dan komitmen untuk berkontribusi melalui ilmu pengetahuan dan gagasan.
Saat ini, seluruh peserta menantikan hasil penilaian resmi dari LLDikti XV. Tiga peserta terbaik nantinya akan ditetapkan sebagai perwakilan wilayah untuk melangkah ke tahapan seleksi tingkat nasional, membawa harapan dan nama baik daerah ke panggung yang lebih luas.
Meski berlangsung secara virtual, suasana kompetisi tetap terasa hidup—penuh dinamika, ketegangan yang sehat, dan harapan yang menggantung di setiap sesi. Teknologi menjadi jembatan, bukan penghalang; medium, bukan batas.
Seleksi ini pada akhirnya bukan sekadar ajang memilih yang terbaik, tetapi juga merayakan potensi. Dari ruang-ruang digital itu, lahir keyakinan bahwa masa depan tidak pernah kekurangan cahaya—ia hanya menunggu untuk ditemukan, diasah, dan diberi ruang untuk bersinar.(Rls/KS)




