Satu Bunda, Seribu Harapan

Balikpapan – Minggu, 1 Maret 2026. Siang itu, ratusan anak yatim piatu melangkah riang memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Bersama mereka, nampak seorang Bunda yang berjalan pelan sembari berbincang ringan. Dari sana mereka membawa pulang bukan sekadar pakaian, sandal atau sepatu baru. Melainkan juga perasaan dicintai, dihargai, dan diyakini bahwa jalan menuju masa depan masih terbuka lebar. Satu bunda hadir, dan dari ketulusannya tumbuh seribu harapan.

Bunda yang menemani anak-anak itu adalah Hj Syarifah Suraida, istri Gubernur Kalimantan Timur yang juga Anggota Komisi VI DPR RI. Tapi tentu saja di siang itu ia hadir bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai seorang ibu. Setidaknya, begitulah yang video pendek yang melintas di beranda instagram saya.

Sebuah video pendek yang menarik perhatian dan menyentuh hati saya. Momen kebersamaan dan kepedulian yang sungguh begitu bermakna. Ia seakan-akan menjadi pengingat bahwa kebaikan masih tumbuh dan menyapa kita dengan cara yang sederhana namun menggetarkan.

“Ambil yang Bagus”

Dari video pendek itu, kita melihat dua anak laki-laki berdiri terpaku. Seorang dari mereka berinisiatif menyampaikan ke Bunda, bahwa temannya takut mengambil sepatu yang ia suka. Bukan karena tak suka modelnya, melainkan karena takut harganya kemahalan.

Barangkali, dalam hidupnya, ia sudah terlalu sering belajar menahan diri. Terlalu cepat mengerti tentang batas dan beban. Terlalu dini memahami bahwa keinginan harus disesuaikan dengan keadaan. Namun hari itu berbeda.

“Gak apa, ambil yang paling bagus,” kata Bunda Suraida, lembut namun tegas, dengan senyumnya yang khas, mematahkan segala keraguan.

Kalimat sederhana itu bukan hanya izin untuk membeli sepatu. Itu adalah izin untuk merasa berharga. Izin untuk percaya bahwa dirinya pantas mendapatkan yang terbaik. Di tengah dunia yang mungkin kerap mengajarkan mereka tentang kehilangan, hari itu mereka belajar tentang kelapangan.

READ  Sosialisasi Pengawasan Partisipatif di Kukar, Pemuda Diharapkan Berperan Awasi Pilkada 2024

Di bagian lain, dua anak perempuan terlihat saling berbisik sambil menelusuri gantungan baju. Rupanya mereka mencari pakaian yang serasi: baju couple. Ada sesuatu yang begitu manusiawi dalam keinginan itu. Keinginan untuk tampil bersama, untuk merasa kompak, untuk memiliki cerita kecil yang bisa mereka kenang ketika bercermin di pagi hari saat lebaran nanti.

Mungkin, bagi kita, memilih pakaian couple adalah hal biasa. Namun bagi anak-anak yang belum tentu setahun sekali bisa datang ke mall, kesempatan untuk bebas memilih adalah kemewahan tersendiri. Kemewahan untuk berkata, “Aku suka yang ini,” tanpa takut dimarahi.

Nilai belanja ratusan anak itu mungkin tidak kecil. Bagi Bunda Suraida, jumlah itu tentu bukan suatu persoalan. Sebab yang jauh lebih penting adalah nilai kemanusiaannya: perhatian tulus dan waktu yang diluangkan.

Hati yang Tersentuh

Bagi mereka yang mengenal sosok Bunda Suraida, pemandangan seperti itu tentulah bukan hal baru. Ia telah melakukannya jauh sebelum menjadi Ketua TP PKK Kaltim dan Anggota DPR RI. Dengan kata lain, ini bukanlah sekadar peran struktural. Ini adalah panggilan hati, dan terbit dari kesadaran bahwa berbagi adalah bagian dari tanggung jawab moral.

Apalagi, anak-anak yatim piatu tak jarang dipandang melalui kacamata belas kasihan. Namun hari itu, mereka tidak diposisikan sebagai objek kasihan, melainkan sebagai anak-anak yang berhak bergembira. Mereka memilih sendiri baju mereka, mencoba sepatu, atau pun berdiskusi tentang warna dan ukuran layaknya anak-anak lain seusia mereka.

Ketika seorang anak yang tadinya ragu akhirnya membawa sepatu pilihannya ke kasir, mungkin yang dibawanya pulang bukan hanya barang dalam kantong belanja, tetapi juga perasaan diterima. Ketika dua anak perempuan itu menemukan baju couple yang mereka impikan: mereka bergembira, tapi juga saling menguatkan.

READ  Jelajahi Kota Angin Mammiri Lebih Leluasa: Rental Motor Makassar dengan Pilihan Beragam dan Layanan Siap Antar Phinisi Rent

Dan di tengah semua itu, seorang Bunda berjalan sambil sesekali membungkuk, mendengarkan cerita, mengusap kepala, dan memastikan setiap anak merasa diperhatikan. Hemat saya, dalam keibuan yang sederhana itulah terletak keistimewaannya.

Kita memang hidup di zaman ketika angka dan jabatan sering lebih menonjol daripada empati. Namun kisah di mall siang itu mengingatkan bahwa yang paling membekas justru adalah sentuhan kemanusiaan. Bahwa satu kalimat “ambil yang paling bagus” bisa menjadi pelajaran tentang harga diri. Bahwa menemani berbelanja bisa menjadi cara memulihkan rasa percaya diri anak-anak yang telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya.

Pada akhirnya, bagi Bunda Syarifah Suraida, nilai belanja itu bukanlah hal besar. Tetapi bagi seratus anak yatim piatu, perhatian yang tulus dan waktu yang diberikan adalah harta yang tak ternilai. Dan di sanalah makna berbagi menemukan kesejatian wujudnya: bukan pada seberapa banyak yang diberikan, tetapi pada seberapa dalam hati yang disentuh. Wallahu a’lam bisshawab./

Oleh: Dharma Rola
Aktivis Organisasi Perempuan, tinggal di Samarinda

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img

BERITA POPULER