MAKASSAR — Jajaran Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Makassar terus menyelidiki kasus tewasnya remaja berinisial MDJ (16), yang diduga tertembak senapan angin saat tawuran antarpemuda di kawasan Jalan Layang–Jalan Tinumbu Lorong 148, Kecamatan Tallo.
Plh Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Muhammad Ridwan, mengatakan korban baru diketahui meninggal setelah polisi tiba di lokasi tawuran yang sudah bubar.
“Sementara masih penyelidikan. Saat anggota tiba, tawuran sudah bubar. Baru kami ketahui ada korban setelah dia meninggal dunia,” ujarnya, Jumat.
Meski bentrokan antara kelompok di Kampung Sapiria dan Borong Taipa (Borta) sempat mereda, pertikaian kembali pecah pada Jumat dini hari. Untuk mencegah bentrokan susulan, polisi menambah personel dan mendirikan posko pengamanan. Tim Jatanras kini memburu pelaku penembakan.
Dalam insiden itu, korban diduga terkena proyektil senapan angin rakitan yang menembus dada kirinya. Kapolsek Tallo, Kompol Syamsuardi, membenarkan satu korban remaja tewas akibat tembakan tersebut.
“Iya betul, ada korban tewas inisial MD diduga terkena senapan angin. Pelaku belum kita ketahui, masih dalam penyelidikan,” ujar Syamsuardi.
Plt Ketua RT/RW 001/006 Kelurahan Malimongan, Syamsir, mengatakan korban masih duduk di bangku SMA kelas 2. Ia pamit keluar rumah pada Kamis malam, kemudian keluarga menerima kabar duka pada Subuh.
Dari informasi warga, korban disebut hanya menonton tawuran saat peluru mengenai dadanya. Ia langsung tak sadarkan diri dan dinyatakan meninggal dunia.
Jenazah sempat disemayamkan di rumah duka Jalan Satando Lorong III sebelum dibawa ke Kabupaten Soppeng untuk dimakamkan.
Sebelumnya, korban lain bernama Sutte alias Civas juga tewas akibat tembakan senapan angin yang mengenai kepalanya. Insiden itu memicu aksi balas dendam berupa pembakaran 13 rumah di kawasan Tallo.
Tim gabungan Polrestabes Makassar, Polda Sulsel, Brimob dan TNI langsung melakukan penyisiran dan mengamankan lokasi konflik. Polisi telah menangkap pelaku penembakan Civas berinisial CBT, sementara sepuluh terduga pelaku pembakaran rumah masih dalam pengejaran.
Wilayah konflik yang meliputi Kampung Sapiria, Borta, Jalan Lembo, Jalan Tinumbu, dan Jalan Layang itu dikenal memiliki sejarah panjang tawuran sejak 1989 akibat dendam antarkelompok yang tidak kunjung selesai.
Di lapangan berkembang spekulasi bahwa kawasan tersebut juga menjadi jalur peredaran narkotika. Tawuran antarpemuda diduga kerap dimanfaatkan bandar untuk meloloskan barang masuk dan keluar wilayah. (ant/KS)




