MAKASSAR — Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan bersama Detasemen Khusus 88 Anti-teror Mabes Polri mempertegas upaya penguatan nilai wasatiah (moderasi beragama) bagi mantan narapidana terorisme dan masyarakat umum.
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, menegaskan bahwa transformasi ideologi tidak bisa dicapai secara instan, melainkan membutuhkan proses panjang dan suasana sosial yang mendukung.
“Wasatiah adalah prinsip keseimbangan antara teks dan konteks, antara akidah dan kemanusiaan, serta antara identitas keagamaan dan kebangsaan,” ujarnya dalam kegiatan yang digelar di Makassar, Kamis.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang dialog, pendampingan, dan penguatan komitmen kebangsaan, khususnya bagi peserta dari kalangan eks-Jamaah Islamiyah (JI) yang tengah menjalani proses reintegrasi sosial.
Menurut Ali Yafid, seminar ini tidak hanya bersifat seremoni, tetapi menjadi wadah penting untuk meneguhkan kesadaran hidup berdampingan secara damai dalam kerangka kebangsaan.
Ia mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, MUI, Baznas, serta berbagai lembaga yang turut berkolaborasi.
“Negara hadir bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memberi ruang tumbuh, berubah, dan berkontribusi bagi bangsa,” tambahnya.
Ia menekankan perlunya ekosistem sosial dan psikologis yang utuh agar proses transformasi ideologi berjalan efektif dan berkelanjutan. Dalam forum ini, para peserta eks-JI mendapatkan ruang penguatan pemahaman dan pendampingan.
Ali Yafid juga menyampaikan penghargaan atas komitmen para peserta yang memilih jalur perubahan.
“Anda adalah bagian dari masyarakat dan bagian dari masa depan Indonesia. Tidak ada kata terlambat untuk kembali,” ucapnya.
Ia berharap kegiatan ini memperkuat sinergi lintas lembaga pemerintah, tokoh agama, aparat keamanan, dan masyarakat dalam meneguhkan nilai moderasi beragama sebagai fondasi kerukunan dan keutuhan bangsa.
Kegiatan turut dihadiri Kasatgaswil Densus 88 AT Polri, kepala daerah dari Palopo, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Wajo, Sidrap, Direktur Intelijen Polda Sulsel, Kapolres Luwu Raya dan Ajatappareng, pimpinan MUI dan Baznas, akademisi, serta para tokoh lintas sektor lainnya. (ant/KS)




