MAKASSAR — Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman resmi meluncurkan Program Mandiri Benih Padi Andalan Sulsel Tahun 2025 dengan total distribusi 5 juta kilogram benih padi unggul. Bantuan ini diberikan secara gratis kepada petani di seluruh kabupaten/kota dan dilepas langsung dari Kawasan Center Point of Indonesia (CPI) Makassar, Minggu.
Program strategis tersebut didukung anggaran sebesar Rp75 miliar dari APBD Provinsi Sulsel, menyasar 9.896 kelompok tani dengan total lahan tanam 200.000 hektare. Pengiriman 5.000 ton benih dilakukan menggunakan sekitar 300 truk yang diberangkatkan serentak menuju berbagai daerah penerima.
“Hari ini kita meluncurkan Mandiri Benih Andalan. Totalnya Rp75 miliar untuk benih dan alsintan sekitar Rp20 miliar. Jadi totalnya kurang lebih Rp116 miliar,” kata Andi Sudirman.
Ia menegaskan bahwa program ini sejalan dengan agenda Astacita Presiden Prabowo Subianto, khususnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan peningkatan produksi beras nasional. Pemprov Sulsel bersama DPRD diklaim konsisten mendukung langkah swasembada pangan melalui penguatan sektor pertanian.
Selain benih padi, pemerintah provinsi juga menyerahkan bantuan pertanian lainnya berupa benih jagung, bibit kopi dan durian, serta alat dan mesin pertanian seperti hand tractor, combine harvester, cultivator, dan hand sprayer.
Target produksi padi Sulsel pada 2025 meningkat signifikan dengan proyeksi 5,40 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 3,10 juta ton beras, naik 12,05 persen dibandingkan tahun 2024. Dengan luas sawah yang dikelola mencapai 660.638 hektare, proyeksi luas panen tahun depan diperkirakan naik 9,14 persen menjadi 1,04 juta hektare.
Andi Sudirman menegaskan pentingnya peran Sulsel sebagai penyangga utama stok beras nasional dan pemasok untuk sejumlah provinsi yang tidak memiliki kapasitas produksi setara.
“Bapak Presiden selalu menekankan pentingnya ketahanan pangan daerah sebagai penopang nasional. Survei BPS saat ubinan tahun 2022 menunjukkan kenaikan produktivitas dari 8 ton menjadi 13 ton, sekitar 20 persen,” ujarnya.
Ia juga mengajak penyuluh, pengawas benih, pemerintah kabupaten/kota, hingga perbankan untuk berkolaborasi agar program ini berjalan optimal dan memberikan manfaat luas bagi petani. (ant/KS)




