MAKASSAR – Sebanyak 750 peserta dari 131 tim turut meramaikan ajang Indonesia Menari 2025 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini digelar serentak di 11 kota se-Indonesia sebagai bentuk pelestarian budaya dan seni tari Nusantara.
Secara nasional, acara tahunan yang telah berlangsung sejak 2012 ini diikuti oleh 8.000 peserta dari Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Makassar, Palembang, Surabaya, Balikpapan, Manado, Bekasi, dan Karawang. Seluruh peserta menari serentak di pusat-pusat perbelanjaan sebagai panggung ekspresi budaya.
“Digelar di mal, sebagaimana kita bersuara dan merayakan Indonesia Menari di lokasi yang bisa disaksikan banyak orang. Dulu, pertunjukan reog ponorogo juga tampil di pasar-pasar,” kata Eko Supriyanto, juri utama Indonesia Menari 2025 di Makassar, Minggu.
Eko menjelaskan, Indonesia Menari menjadi wadah apresiasi seni tari Nusantara yang dikemas dalam format modern, segar, dan inklusif. Ajang ini bukan sekadar lomba, tetapi juga ruang bagi siapa pun untuk mengekspresikan diri tanpa batasan usia, gender, atau latar belakang.
“Komposisi koreografi ini mengajarkan bahwa siapa pun bisa menari — anak-anak, ibu-ibu, hingga bapak-bapak. Tidak dibatasi profesi, tapi dibuka untuk semua,” ujarnya.
Peserta datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas tari, hingga masyarakat umum. Tahun ini, setiap kelompok terdiri dari lima hingga tujuh orang, dengan tema etnik modern yang menampilkan koreografi karya Bathara Saverigadi Dewandoro, penari dan koreografer kenamaan Indonesia.
Bathara menggabungkan ragam gerak tangan tradisional dari berbagai daerah dengan musik medley delapan lagu daerah, antara lain Sinanggar Tulo (Sumatera Utara), Kicir-Kicir (Jakarta), Cing Cangkeling (Jawa Barat), Anging Mamiri (Sulawesi Selatan), Rek Ayo Rek (Jawa Timur), Indung-Indung (Kalimantan Timur), Si Patokaan (Sulawesi Utara), dan Rasa Sayange (Maluku).
Hasilnya adalah harmoni indah antara tradisi dan musik kontemporer yang menggambarkan keberagaman Indonesia.
Program Manager Indonesia Kaya, Billy Gamaliel, mengatakan bahwa Indonesia Menari bukan hanya kompetisi, melainkan perayaan budaya yang hidup kembali melalui pendekatan modern dan interaktif.
“Mereka bersama-sama menampilkan kemampuan menari terbaik dengan hadiah uang tunai dan pembinaan oleh sanggar tari profesional persembahan Indonesia Kaya,” jelasnya.
Memasuki tahun ke-10 penyelenggaraan, Indonesia Menari 2025 terasa semakin istimewa karena juga menjadi bagian dari perayaan 12 tahun Galeri Indonesia Kaya, sebagai bentuk konsistensi dalam merawat semangat seni dan budaya Indonesia. (ant/KS)




