MAKASSAR, KORANSULSEL – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyatakan pihaknya siap membuka peluang kerja sama dengan teknologi baru, termasuk dari Australia, untuk memperkuat pengelolaan sampah di Kota Makassar. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan hanya volume sampah harian, tetapi juga timbunan lama yang sudah menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Tantangan terbesar ada pada sampah lama di TPA. Karena itu, kami mencari teknologi yang mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Munafri di Makassar, Rabu (27/8).
Ia menambahkan, sejumlah perusahaan rintisan dari kawasan Indonesia Timur seperti Petrogel, Energi Timur, Nusa Power, Sumba Sustainable Solutions, dan Kuantimur Tenor juga siap mendukung upaya Pemkot dalam menghadapi perubahan iklim dan persoalan sampah.
Dengan timbunan sampah harian mencapai 1.000–1.300 ton, TPA Tamangapa seluas 19 hektare kini sudah menumpuk hingga 16 meter. “Syukurlah TPA kami belum disegel Kementerian Lingkungan Hidup karena kami terus berbenah. Kami sudah mulai regulasi dari rumah tangga dan memperkuat edukasi,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Makassar mendorong urban farming di tingkat RT/RW. “Harapan kami, yang sampai ke TPA hanya residu, bukan semua sampah dari rumah tangga,” jelasnya.
Selain isu sampah, Pemkot Makassar juga memperkuat kerja sama internasional untuk menekan emisi karbon. Bersama Pemerintah Jepang dan Kementerian Lingkungan Hidup, Makassar menargetkan menuju status Zero Carbon City. Munafri menyebutkan, mulai tahun depan seluruh kendaraan operasional Pemkot akan beralih ke kendaraan listrik dengan sistem sewa.
“Perubahan iklim adalah tantangan global, tetapi solusinya harus berakar dari lokal,” tegas Munafri. (ant/KS)




