Makassar – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar mengoptimalkan sembilan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) guna menekan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang. Dari total sembilan TPS3R tersebut, dua berada di wilayah kepulauan, yakni Pulau Kodingareng dan Barang Lompo, sementara satu unit lagi akan dibangun tahun depan di Pulau Lae-Lae.
“Kegiatan TPS3R menekankan pemilahan sampah mulai dari skala rumah tangga untuk kemudian dikelola sendiri maupun secara komunal,” kata Kepala Bidang Persampahan Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas DLH Makassar, Bau Asseng, dalam diskusi publik bertema “Mau diapakan ini sampah?” yang digelar Society of the Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Simpul Sulsel, Jumat (26/9/2025).
Menurutnya, pendanaan TPS3R dapat dilakukan melalui pemerintah, komunitas, maupun pengembang. Hasil pengolahan sampah TPS3R bahkan memiliki nilai ekonomi, seperti kompos, maggot, hingga ecoenzym yang bisa diolah menjadi produk rumah tangga, mulai dari sabun cuci piring, pembersih lantai, hingga pembersih kaca.
“Ini akan menjadi potensi pendapatan baru bagi rumah tangga atau kelompok, sekaligus mengurangi sampah ke TPA yang biasanya 1.000 ton per hari turun menjadi sekitar 800 ton per hari,” jelas Bau Asseng.
Sementara itu, General Manager Hotel MaxOne dan Resto, M. Yusuf Sandy, menuturkan komitmen pihaknya dalam pengelolaan sampah dan limbah B3 telah mengantarkan MaxOne sebagai juara terbaik dalam lomba pengelolaan lingkungan.
Penulis buku “Mengubah Sampah Menjadi Uang” ini menegaskan, konsep pemilahan sampah sudah diterapkan di lingkungan hotel dan restoran. Edukasi dilakukan melalui “papan bicara” yang ditempatkan di area strategis seperti restoran, lobi, hingga kamar tamu agar pengunjung mengambil makanan secukupnya dan tidak menyisakan sampah.
Selain itu, diterapkan pula aturan denda Rp50 ribu per 100 gram sampah bagi pengunjung maupun karyawan yang melanggar. “Ini untuk mendisiplinkan semua pihak agar tetap menjaga kebersihan,” kata Yusuf.
Hasil pengolahan sampah hotel berupa kompos dan ecoenzym dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman kebun di sekitar hotel. “Kami sudah uji coba pupuk kompos dan ecoenzym itu untuk tanaman jagung, sawi, dan tanaman lainnya. Alhamdulillah tumbuh subur,” ujarnya. (ant/KS)




