MAROS, KORANSULSEL – Balai Pengelola Kereta Api (BPKA) Sulawesi Selatan menggelar parade dan pameran sarana perkeretaapian di Stasiun Mandai, Kabupaten Maros, Minggu (17/8/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat untuk lebih mengenal perkembangan dunia kereta api di Sulsel.
Kepala BPKA Sulsel, Deby Hospital, menjelaskan kehadiran kereta api Makassar–Parepare menjadi simbol peradaban baru dalam transportasi di kawasan timur Indonesia. “Kalau selama ini kereta api identik dengan Jawa dan Sumatera, kini kita tunjukkan bahwa Sulawesi Selatan juga memiliki kereta api yang tidak kalah modern. Bahkan, kereta api di Sulsel adalah yang paling canggih,” ujar Deby.
Menurutnya, perayaan ini bukan sekadar hiburan, melainkan momentum untuk mengedukasi masyarakat agar semakin akrab dengan transportasi publik, khususnya kereta api. “Tujuan kami adalah menumbuhkan minat anak-anak dan masyarakat untuk menggunakan transportasi publik. Dalam semangat kemerdekaan ini, kita diingatkan bahwa membangun konektivitas dan transportasi adalah upaya kolektif untuk memajukan negeri,” jelasnya.
Acara yang berlangsung dari pukul 15.30 hingga 21.00 WITA ini diramaikan oleh pameran sarana kereta api, penjelasan sejarah perkeretaapian Sulsel, serta sosialisasi tugas dan fungsi BPKA dalam pengelolaan transportasi. Pengunjung juga diajak menyaksikan langsung berbagai sarana vital kereta api, seperti Lori Inspeksi, Kereta Ukur, Kereta Matisa (Multi Tie Tamper), Kereta Track Motor Car (TMC), hingga Kereta Penolong yang berperan penting dalam pemeliharaan jalur dan keselamatan perjalanan.
Selain edukasi, masyarakat juga antusias mengikuti lomba foto dan video bertema perkeretaapian, yang mengajak peserta mengabadikan kereta api dari perspektif kreatif. Suasana semakin meriah dengan kehadiran pelaku UMKM yang menjajakan produk lokal, konser musik, dan hiburan rakyat. Panitia turut menyiapkan berbagai hadiah menarik sebagai bentuk apresiasi bagi para pengunjung.
Deby menegaskan, keberadaan kereta api Makassar–Parepare bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari perubahan budaya mobilitas masyarakat Sulsel. “Kehadiran kereta api menghadirkan cara pandang baru tentang mobilitas, konektivitas, dan kualitas hidup masyarakat di Sulawesi Selatan,” pungkasnya. (ant/KS)




