Jumat, Juni 14, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Menjadi Perhatian Pasar Saham

KORAN SULSEL –  Data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) akan menjadi salah satu katalis utama modal pekan ini. Sebab, data tersebut akan berpengaruh pada kebijakan The Federal Reserve (The Fed) ke depan. Dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi perhatian pelaku pasar.

’’IHSG (indeks harga saham gabungan) berpeluang menguat dengan support di level 6.859 sampai 6.798 dan resistan di 6.966 hingga 7.000,” kata analis pasar modal Hans Kwee.

Dalam simposium tahunan di Jackson Hole, Gubernur The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk memastikan inflasi terkendali. Meski demikian, para pelaku pasar masih menunggu data tenaga kerja AS yang rilis pekan ini.

’’Data tenaga kerja AS akan berpengaruh pada kebijakan The Fed untuk pertemuan September mendatang,” ujarnya.

Sentimen dari Asia, masalah sektor properti Tiongkok berdampak pada penurunan target pertumbuhan indeks ekonomi kawasan. Hal itu berimbas terhadap investasi di Negeri Panda. Perlambatan juga terlihat dari purchasing manager’s index (PMI) manufaktur yang berada di level 49,2. Di bawah level ekspansif (>50) yang berisiko terhadap kinerja ekonomi.

Dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi perhatian pelaku pasar. Hingga Jumat (25/8) lalu, rupiah ditutup melemah 0,32 persen ke Rp 15.295 per USD. ’’Tekanan pada rupiah akibat sikap The Fed yang makin hawkish untuk menurunkan inflasi AS,” terangnya.

Meski demikian, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan perekonomian Indonesia tumbuh kuat. Dia mengakui sikap hawkish The Fed itu menimbulkan risiko rambatan secara global. Termasuk fenomena strong dollar US (USD).

Perry menegaskan, pergerakan nilai tukar tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pasar. Bank sentral harus terlibat demi terciptanya stabilitas. Sebab, nilai tukar mata uang merupakan salah satu dari lapisan fundamental ekonomi.

Pergerakan nilai tukar mata uang yang signifikan akan berdampak negatif terhadap faktor lain, seperti inflasi. Artinya, ketika rupiah melemah, barang yang diimpor akan lebih mahal dari sebelumnya. ’’Inflasi kita akan terancam. Jadi, kita perlu campur tangan tidak hanya untuk menstabilkan volatilitas,” ujar lulusan Iowa State University itu.(KS)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular