MAKASSAR — Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan menegaskan bahwa eliminasi stigma sosial merupakan faktor kunci dalam keberhasilan penanggulangan dan pemutusan rantai penularan Tuberkulosis (TBC) di Sulawesi Selatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P3) Dinkes Sulsel, Moh Yusri Yunus, menyampaikan bahwa stigma sosial masih menjadi tantangan besar, tidak hanya di Sulsel, tetapi juga secara nasional.
“Stigma sosial ini menjadi tantangan besar dalam penanggulangan TBC, karena membuat penderita takut dikucilkan sehingga enggan memeriksakan diri atau mengakui kondisi kesehatannya,” ujar Yusri di Makassar, Selasa.
Ia menegaskan, upaya penanggulangan TBC tidak cukup hanya berfokus pada aspek medis, tetapi harus dibarengi dengan perubahan sikap dan cara pandang masyarakat terhadap penderita TBC.
Menurutnya, stigma masih sering muncul dalam bentuk bahasa, ekspresi, maupun sikap tubuh masyarakat saat melihat seseorang yang batuk atau mengalami flu. Respons yang tidak tepat tersebut justru berpotensi melukai perasaan pasien.
“Masih ada yang secara refleks menyuruh menjauh dengan kata-kata yang tidak nyaman didengar. Padahal, yang lebih tepat adalah mengingatkan secara halus, misalnya dengan meminta penderita menggunakan masker saat berada di tempat umum,” jelasnya.
Yusri menilai, sikap empati dan pemahaman menjadi kunci agar penderita TBC merasa aman untuk berobat dan terbuka terhadap kondisi kesehatannya. Dengan demikian, proses pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan penularan dapat ditekan.
Untuk menghapus stigma negatif tersebut, Dinkes Sulsel terus melakukan langkah preventif melalui kampanye promosi kesehatan. Upaya ini dilakukan dengan menggerakkan tim terpadu hingga tingkat kabupaten/kota dan puskesmas, baik melalui sosialisasi langsung di masyarakat maupun optimalisasi media sosial.
Selain itu, Dinkes Sulsel juga menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk media arus utama, guna mengampanyekan inovasi dan keberhasilan penanggulangan TBC, tidak semata-mata menyoroti kekurangan layanan kesehatan di lapangan.
Tak hanya itu, Dinkes Sulsel turut menggandeng Kementerian Agama di tingkat kabupaten/kota untuk membantu menyosialisasikan pola hidup sehat melalui pendekatan keagamaan. Upaya ini dinilai efektif, terutama saat Bulan Suci Ramadhan yang sarat dengan tausiah dan ceramah keagamaan.
“Dengan pendekatan lintas sektor dan perubahan cara pandang masyarakat, kami optimistis penanggulangan TBC di Sulawesi Selatan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” pungkasnya. (ant/KS)




