MAKASSAR — Pemerhati lingkungan Sulawesi Selatan (Sulsel) Mustam Arif menilai persoalan kepulauan yang kompleks tidak dapat ditangani secara sektoral, melainkan membutuhkan pendekatan yang holistik dan berkeadilan.
“Salah satu masalah paling mendesak yang dihadapi masyarakat pulau-pulau di Pangkep saat ini adalah krisis air bersih. Jika sebelumnya warga masih dapat mengandalkan sumur air tawar, kini banyak sumber air perlahan berubah menjadi payau, bahkan asin,” kata Mustam di Makassar, Kamis.
Direktur Eksekutif Jurnal Celebes itu menjelaskan fenomena tersebut dipicu oleh meningkatnya intrusi air laut yang terus merangsek masuk seiring degradasi lingkungan pesisir dan dampak perubahan iklim.
Menurut dia, krisis air bersih menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup masyarakat pulau. Air tidak hanya menjadi kebutuhan dasar, tetapi juga penentu kesehatan, ketahanan pangan, serta martabat hidup warga.
“Sementara ketika air tawar semakin sulit diperoleh, beban terbesar justru jatuh pada perempuan yang selama ini berperan sebagai pengatur rumah tangga,” ujarnya.
Selain krisis air, lanjut Mustam, penurunan hasil tangkapan nelayan juga menjadi persoalan struktural yang semakin dirasakan masyarakat kepulauan. Perubahan iklim menyebabkan pola cuaca ekstrem yang sulit diprediksi sehingga nelayan kerap tidak dapat melaut.
Dampak dari kondisi tersebut terlihat pada penurunan pendapatan rumah tangga nelayan secara drastis. Dalam situasi ekonomi yang tertekan, perempuan kembali menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.
Ketika penghasilan berkurang, perempuan mengalami tekanan psikologis dalam mengatur kebutuhan keluarga sehari-hari di tengah keterbatasan akses ekonomi, baik karena faktor geografis kepulauan maupun minimnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Krisis air tawar juga memperberat beban ganda perempuan. Selain memasak dan mengurus kebutuhan keluarga, perempuan harus memikirkan cara memperoleh air bersih untuk menopang kehidupan rumah tangga. (ant/KS)




