MAKASSAR, KORANSULSEL — Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Makassar terus mendalami kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswa SD bernama Muhammad Raja Afnan (12), yang meninggal dunia usai dirawat intensif di rumah sakit pada Jumat (30/5/2025).
Hingga saat ini, polisi telah memeriksa enam orang saksi terkait peristiwa tragis yang menimpa murid kelas VI SDN Maccini Sawah Satu tersebut.
“Sudah enam orang diperiksa dan keterangannya sudah maksimal. Jadi tidak perlu memeriksa banyak saksi jika keterangan yang diperoleh sudah cukup,” jelas Kasatreskrim Polrestabes Makassar AKBP Devi Sujana kepada wartawan, Selasa (24/6/2025).
Menurut Devi, penanganan perkara ini terus berprogres. Penyidik kini menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik dari autopsi jenazah yang dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
“Beberapa organ tubuh sudah diautopsi dan dikirim ke laboratorium forensik. Kami menunggu hasilnya agar bisa disinkronkan dengan penyebab kematian,” jelasnya.
Korban sebelumnya dilaporkan mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh, termasuk dada, dan terdapat bekas luka seperti sulutan rokok, usai mengikuti ujian akhir pekan lalu. Ia sempat dirawat di tiga rumah sakit berbeda—RS Pelamonia, RS Sitti Fatimah, dan RSI Faisal—sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Keluarga korban mengungkapkan bahwa sebelum meninggal, Afnan sempat menyebut bahwa dirinya dipukul oleh teman sekolahnya. Saat ditanya berapa orang pelaku, korban hanya mengangkat tiga jari, dan menyebut dua dari mereka merupakan siswa SD, satu lainnya siswa SMP.
“Saya tanya siapa yang pukul, Afnan bilang teman. Saya tanya berapa orang, dia kasih naik tiga jari,” ungkap Desma, bibi korban, saat ditemui di rumah duka di Jalan Maccini Gusung.
Namun, korban tak sempat menyebutkan nama pelaku secara jelas, meskipun mengaku mengenal mereka.
Berdasarkan informasi keluarga, Afnan adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Ia sempat mengalami demam tinggi, dan dari diagnosis awal, disebutkan menderita tifus disertai gejala demam berdarah. Namun, dugaan adanya unsur kekerasan membuat keluarga mendesak dilakukan autopsi jenazah untuk memastikan penyebab kematian.
Pihak kepolisian belum menetapkan tersangka, namun AKBP Devi Sujana menyebut, tindak lanjut kasus ini akan segera dilakukan dalam waktu dekat.
“Mudah-mudahan pekan ini ada perkembangan signifikan,” pungkasnya.
Kasus ini menyita perhatian publik karena menyangkut kekerasan terhadap anak dan terjadi di lingkungan sekolah. Aparat kini diminta mengusut tuntas untuk memastikan keadilan bagi keluarga korban dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang. (ant/KS)




