Minggu, Mei 19, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sadar Pentingnya Literasi Digital, DWP Sulsel Sosialisasi “Bijak Bersosial Media”

MAKASSAR, KORANSULSEL– Darma Wanita Persatuan (DWP) Sulawesi Selatan menganggap pentingnya sosial media saat ini, sehingga pihaknya melakukan sosialisasi “bijak bersosial media” di depan para pengurus DWP Provinsi Sulsel, Kamis (8/4/2024) di Kantor Gubernur Sulsel.

Ketua DWP Sulsel Andi Hanna Arsyad dalam pertemuan silaturahmi dengan pengurus dan anggota DWP Sulsel mengatakan, silaturahmi antar DWP selalu harus memberikan manfaat bagi para anggota dan pengurus.

“Kali ini kita melakukan sosialisasi bagaimana bersosial media yang baik dan benar. Wajib kita terapkan di era saat ini. Dan sekaligus untuk generasi kita yang akan datang,” ujar Andi Hanna Arsyad.

Pertemuan dan silaturahmi DWP ini difasilitasi oleh DWP Unit Diskominfo-SP Sulsel. Hadir sebagai tuan rumah adalah Ketua DWP Unit Diskominfo Sulsel Andi Hikmawati Winarno.

Usai silaturahmi, acara selanjutnya adalah materi bersosial media yang bijak. Materi ini dibawakan oleh Sultan Rakib praktisi sosial media dan sekaligus Sekretaris Diskominfo-SP Sulsel.

Dalam materinya Sultan menyebutkan era transformasi digital yang ditandai dengan maraknya sosial media yang digandrungi lintas generasi berdampak buruk pada sisi tertentu. Katakanlah, penyebaran hoax yang sulit dibendung karena literasi digital dan wawasan masyarakat Indonesia masih minim.

Olehnya itu, literasi digital berupa pemahaman kepada masyarakat tentang bijak bersosial media adalah sebuah keniscayaan yang harus terus dilakukan oleh berbagai pihak.

“Ini bukan saja tanggung jawab pemerintah semata, ini tanggung jawab semua pihak. Bermedia sosial penting tapi jauh lebih penting mengedepankan etika dan budaya. Bijaklah dalam bersosial media, jangan biarkan jempol kita mengalahkan pikiran kita,” ujar Sultan.

Sultan Rakib mengatakan, saat ini, sosial media telah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Dan itu pasti memiliki dampak positif dan dampak negatif. Penyebaran hoax atau berita bohong paling banyak melalui media sosial. Data dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan tahun 2024 ini penyebaran berita hoax sebesar 11,12 persen itu melalui media mainstream atau media online, 29,12 persen itu melalui media chat.

“Yang paling banyak adalah melalui sosial media sebesar 59,75 persen. Inilah yang menjadi kekhawatiran kita semua. Ibu-ibu wajib mewaspadai ini,” ujar Sultan.

Prinsip 3S, saring sebelum sharing menjadi hal terpenting dalam mencegah peredaran hoax di tengah masyarakat. Literasi digital di sekolah-sekolah, kelompok masyarakat, dan lain sebagainya wajib terus ditingkatkan. (HMS/KS)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular