Jumat, Maret 1, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

FEB Unhas Gelar Konferensi Internasional ICAME, Bahas Ekonomi Inklusif

MAKASSAR, KORAN SULSEL – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin menyelenggarakan konferensi bertajuk “The 8th International Conference on Accounting, Management, and Economics (ICAME) 2023 di Makassar Sulawesi Selatan Rabu, yang fokus membahas ekonomi inklusif.

Hadir sebagai narasumber pada konferensi tersebut yakni Arianto Patunru PhD (The Australian National University, Australia), Rayenda Khresna Brahmana PhD (Coventry University, UK), Mubariq Ahmad PhD (Conservation Strategy Fund (CSF), dan Prof Dato’ Dr Norman Mohd Saleh dari Universitas Kebangsaan Malaysia, Malaysia.

Dekan FEB Unhas Prof Dr Abdul Rahman Kadir MSi CIPM berharap konferensi menjadi ruang diskusi dan informasi dari berbagai penelitian berkaitan dengan upaya pembangunan ekonomi Inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat secara berkeadilan di era pasca pandemi.

“Kegiatan ini menjadi agenda penting dalam publikasi karya ilmiah para akademisi sekaligus kontribusi positif dalam memetakan pembangunan Indonesia ke depan. Kita harapkan akan muncul ide dan gagasan yang bisa dijadikan sebagai solusi untuk mendorong ekonomi inklusif bagi masyarakat,” kata Prof Rahman.

Sekretaris Universitas Hasanuddin Prof Sumbangan Baja MPhil PhD menuturkan, topik pembahasan sangat menarik untuk didiskusikan.

Menurutnya urgensi pembahasan topik inklusivitas dalam perekonomian dan bisnis global sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan, mengingat sektor ekonomi menjadi salah satu bagian penting

“Tema pembahasan kali ini sangat menarik, kolaborasi lintas disiplin untuk menciptakan solusi inovatif yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, di mana semua lapisan masyarakat dapat merasakan manfaatnya sangat kita butuhkan. Melalui kegiatan ini, akan banyak ide serta gagasan dari para akademisi yang bisa didengarkan bersama,” katanya.

Sementara itu, materi awal disampaikan oleh Arianto Patunru berkaitan dengan “Indonesian Economy: Between Ambivalence, Pragmatism and Nationalism”.

Menurutnya, perekonomian Indonesia sehat meskipun terjadi gejolak eksternal. Negara perlu tumbuh lebih cepat untuk menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045.

Ia menyampaikan, salah satu cara untuk mencapai hal ini adalah melalui peningkatan aktivitas perdagangan. Namun proteksionisme terus meningkat, kebijakan perdagangan saat ini diwarnai dengan pragmatisme, ambivalen, dan nasionalisme.

“Sehingga, peningkatan produktivitas dan infrastruktur logistik adalah kunci untuk mendukung integrasi lebih lanjut ke dalam rantai nilai global,” kata Arianto. (ANT/KS)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular