MAKASSAR — Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan mencatat ratusan warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Sulawesi Selatan terdiagnosis tuberkulosis (TBC) berdasarkan hasil skrining yang dilakukan di 24 kabupaten/kota se-Sulsel.
Penanggung Jawab Program TBC Dinas Kesehatan Sulsel Andi Julia Junus mengatakan skrining tersebut dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan dengan cakupan 100 persen di seluruh Rutan dan Lapas.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan sebanyak 320 orang atau 2,9 persen dari total warga binaan Lapas dan Rutan yang menjalani pemeriksaan X-ray terdiagnosis TBC,” kata Julia di Makassar, Sabtu.
Ia menjelaskan, secara umum pelaksanaan skrining berjalan baik dengan capaian penemuan kasus yang optimal. Berdasarkan hasil pemeriksaan rontgen (X-ray), tercatat sebanyak 11.157 warga binaan di Rutan dan Lapas telah menjalani skrining di 24 kabupaten/kota.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.199 orang atau 10,7 persen dinyatakan sebagai terduga TBC. Selanjutnya, sebanyak 936 orang atau 78,1 persen dari kelompok terduga TBC menjalani pemeriksaan laboratorium lanjutan.
“Tidak semua dapat menjalani pemeriksaan lanjutan karena tidak boleh ada paksaan. Penolakan tersebut kami hormati sebagai hak individu warga binaan,” ujarnya.
Pada pelaksanaan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), sebanyak 299 orang memenuhi syarat untuk menerima terapi pencegahan. Namun, hanya 180 orang atau 60,2 persen yang bersedia dan akhirnya mendapatkan TPT, sementara 119 orang lainnya menolak.
Julia menjelaskan TPT diberikan kepada individu yang tidak menunjukkan indikasi TBC aktif, tetapi berisiko mengalami infeksi laten tuberkulosis (TBI), dan pelaksanaannya juga tidak dapat dipaksakan.
Ia menambahkan, tingginya angka temuan kasus TBC dipengaruhi oleh kondisi hunian, khususnya di Rutan yang umumnya memiliki tingkat kepadatan lebih tinggi dibandingkan Lapas. Rutan dihuni oleh tahanan sementara yang belum menjalani putusan pengadilan dan kerap ditempatkan dalam satu ruangan besar dengan jumlah penghuni yang padat, sehingga meningkatkan risiko penularan.
“Sebaliknya, Lapas cenderung memiliki pembagian ruang sel yang lebih terstandarisasi dengan kapasitas lebih terkendali, sehingga risiko penularan relatif lebih rendah,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut hasil skrining, setiap Rutan dan Lapas yang terlibat telah memanfaatkan fasilitas klinik internal untuk melakukan intervensi. Warga binaan yang terdiagnosis TBC langsung mendapatkan pengobatan sesuai standar, sementara kontak erat, termasuk satu sel, diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis setelah melalui pemeriksaan klinis dan penilaian kelayakan oleh dokter. (ant/KS)




