Australia – Bagi sebagian orang, berenang sejauh 3,8 kilometer, bersepeda 180 kilometer, dan diakhiri dengan lari maraton sejauh 42,2 kilometer dalam satu rangkaian adalah hal yang mustahil. Namun, bagi A. Muhammad Fauzi Surjan, deretan angka tersebut adalah “panggung perayaan” atas kedisiplinan yang ia rintis selama setahun terakhir.
Fauzi berdiri di antara ribuan atlet dari seluruh dunia dalam ajang Ironman Western Australia (7/12). Bukan sekadar medali yang ia incar, melainkan sebuah pembuktian bahwa mimpi besar bisa lahir dari sebuah komitmen sederhana.
Melampaui Batas dari Titik Nol(
Perjalanan Fauzi menuju ajang bergengsi ini tidak terjadi dalam semalam. Berawal dari obrolan di komunitas olahraga dan unggahan di media sosial, ketertarikannya mulai tumbuh. Ia merasa terpanggil untuk menantang dirinya di level yang lebih tinggi.
”Proses menuju Ironman full distance bukanlah hal yang singkat. Latihannya sangat panjang dan menuntut, khususnya bagi yang memulai dari nol, bisa memakan waktu hingga satu tahun persiapan,” ungkap Fauzi.
Menurutnya, Ironman bukan sekadar uji ketahanan fisik. Ini adalah perpaduan kompleks antara kesiapan mental dan strategi yang matang di tiga cabang olahraga sekaligus: renang, sepeda, dan lari.
Perang Melawan Waktu dan Nutrisi
Di balik kegagahan seorang Ironman, ada perjuangan domestik yang jarang tersorot. Bagi Fauzi, hambatan terbesar bukanlah tanjakan tajam atau ombak laut, melainkan manajemen waktu. Di tengah kesibukan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga, ia harus pandai menyisipkan jadwal latihan yang sangat menyita waktu.
”Hambatan yang paling sering saya rasakan adalah ketika jadwal latihan berbenturan dengan waktu keluarga dan pekerjaan. Di situ dibutuhkan komunikasi dan pengorbanan,” tuturnya.
Tak hanya itu, ia menekankan bahwa keberhasilan finis sangat bergantung pada strategi nutrisi. Setiap asupan energi, cairan, dan elektrolit harus disusun secara presisi. Satu kesalahan kecil dalam eksekusi nutrisi bisa berarti kegagalan di garis finish.
Hari Perlombaan: Waktunya “Bersenang-senang”
Uniknya, Fauzi memiliki filosofi tersendiri mengenai hari perlombaan. Baginya, penderitaan yang sesungguhnya ada pada bulan-bulan latihan yang disiplin, bukan pada hari H.
”Justru tantangan terberat ada pada proses latihannya, bukan saat hari perlombaan. Ketika race berlangsung, itu adalah momen untuk menikmati hasil dari seluruh perjuangan, konsistensi, dan pengorbanan selama latihan,” jelasnya dengan optimis.
Setiap atlet yang melintasi garis finish memang mendapatkan medali sebagai simbol ketangguhan. Namun, bagi Fauzi, ada hadiah yang lebih besar: kesempatan meraih slot kualifikasi menuju Ironman World Championship, sebuah kasta tertinggi bagi para penggiat olahraga endurance.
Pesan untuk Anak Muda Sulawesi Selatan
Membawa nama daerah di kancah internasional, Fauzi yang juga alumni SMA Negeri 1 Makassar (SMAnSA) angkatan 2009 berharap perjalanannya bisa menjadi pemantik semangat bagi generasi muda, khususnya di Sulawesi Selatan. Ia ingin membuktikan bahwa atlet daerah memiliki potensi yang sama besarnya untuk bersaing di panggung dunia.
”Jangan pernah ragu untuk bermimpi besar. Olahraga bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga tentang membangun disiplin dan mental yang kuat,” pesan Fauzi. Ia percaya bahwa dengan konsistensi dan kemauan untuk terus belajar, tidak ada batas yang tidak bisa ditembus. (Azkar/KS)




