MAKASSAR – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat tingkat inflasi pada Oktober 2025 mencapai 0,10 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 0,28 persen.
Kepala BPS Sulsel, Aryanto, di Makassar, Senin, mengatakan inflasi di Sulsel disumbang terutama oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami kenaikan 3,83 persen, dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,31 persen.
“Inflasi Sulsel secara bulanan masih cukup rendah dibandingkan nasional. Sulsel hanya 0,10 persen,” ujarnya.
Secara umum, terdapat 10 kelompok pengeluaran yang memengaruhi inflasi Sulsel. Tiga kelompok memberi andil inflasi, sedangkan tujuh kelompok lainnya mengalami deflasi dan menjadi penyeimbang.
Tiga kelompok pengeluaran yang menyumbang inflasi adalah:
1. Perawatan pribadi dan jasa lainnya (3,83 persen),
2. Transportasi (0,18 persen), dan
3. Perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga (0,12 persen).
Sementara itu, kelompok yang mengalami deflasi meliputi makanan, minuman dan tembakau (-0,76 persen), pendidikan (-0,13 persen), pakaian dan alas kaki (-0,09 persen), perlengkapan rumah tangga (-0,03 persen), kesehatan (0,06 persen), informasi dan jasa keuangan (0,01 persen), rekreasi dan budaya (0,01 persen), serta restoran dan penyedia makanan (0,01 persen).
Untuk inflasi tahunan (year on year/yoy), BPS mencatat Sulsel mengalami inflasi 2,98 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,83. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) sebesar 3,88 persen dengan IHK 106,41, sedangkan terendah di Kota Palopo sebesar 2,67 persen dengan IHK 108,42. (ant/KS)




