MAKASSAR – Universitas Bosowa (Unibos) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan dengan menerjunkan 1.200 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik. Fokus utama kegiatan ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah berkelanjutan di empat kecamatan dan empat kelurahan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Rektor Unibos, Prof. Batara Surya, dalam sambutannya Rabu (8/10/2025), menegaskan bahwa kegiatan KKN menjadi wujud nyata implementasi ilmu pengetahuan di tengah masyarakat. Mahasiswa, kata dia, harus mampu beradaptasi, bekerja sama, dan berkontribusi langsung terhadap pengelolaan sampah serta pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.
“Keberadaan mahasiswa di tengah masyarakat merupakan ujian nyata dari proses pembelajaran di kampus. Ini saatnya ilmu yang diperoleh diuji dalam konteks sosial dan lingkungan yang sebenarnya,” ujar Prof. Batara.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor atau pendekatan pentahelix—melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media—untuk mewujudkan Makassar sebagai kota bebas sampah pada 2029. Menurutnya, kontribusi mahasiswa dalam menggerakkan masyarakat akan menjadi bagian penting dari cita-cita tersebut.
“Perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri. KKN ini menjadi momentum kolaboratif antara dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun kesadaran publik terhadap pengelolaan sampah menuju ekonomi sirkular,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, memaparkan peta jalan Makassar Bebas Sampah 2029 yang kini dijalankan melalui program Makassar Eco Circular Hub. Program tersebut menekankan pentingnya keterlibatan semua elemen—mulai dari pemerintah kota hingga pelaku usaha dan komunitas warga.
Helmy menjelaskan, camat memiliki peran penting dalam mengoordinasikan edukasi bagi petugas kebersihan, sedangkan lurah dan RT/RW bertugas mengidentifikasi potensi sumber sampah di wilayah masing-masing. “Komunitas dan warga diharapkan mampu mengelola bank sampah unit, sementara sektor hotel, restoran, dan kafe berperan dalam pengelolaan sampah organik dan donasi limbah terpilah,” urainya.
Melalui sinergi antara mahasiswa, pemerintah, komunitas, dan sektor usaha, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah meningkat, sekaligus memperkuat langkah menuju Makassar yang bersih, hijau, dan berdaya sirkular. (ant/KS)




