MAKASSAR, KORANSULSEL – Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Sosial (Dinsos) mengambil langkah strategis dalam menangani maraknya anak jalanan (anjal), gelandangan, pengemis (gepeng), dan manusia silver dengan mendirikan sembilan posko pengawasan terpadu di sejumlah titik strategis kota. Kebijakan ini diharapkan mampu mengendalikan aktivitas jalanan yang kian meresahkan serta membangun kesadaran masyarakat dalam mendukung penanganan sosial yang berkelanjutan.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Makassar, Muhammad Zuhur Dg Ranca, menjelaskan bahwa pendirian posko ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga ketertiban umum sekaligus menekan praktik eksploitasi yang kerap terjadi di ruang publik.
“Tujuannya adalah memberikan dampak psikologis kepada anjal, gepeng, dan manusia silver yang sudah mulai marak kembali. Kami ingin memutus mata rantai ketergantungan hidup di jalan, sekaligus mencegah eksploitasi anak-anak,” ujar Zuhur, Jumat (5/7/2025).
Ia menekankan bahwa penanganan ini dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan Satpol PP, pemerintah kecamatan, serta unsur pilar sosial seperti Tagana, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Forum Peduli Sosial Makassar (FPSM), dan Karang Taruna. Posko yang disebut sebagai “posko terpadu” ini dirancang sebagai pusat pengawasan sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.
Zuhur menjelaskan, selain menjaga ketertiban, posko ini juga bertugas menyosialisasikan pentingnya tidak memberikan uang secara langsung kepada pengemis dan manusia silver. Sosialisasi dilakukan secara aktif, termasuk melalui pemasangan papan imbauan di lokasi-lokasi posko.
“Banyak masyarakat yang secara tidak sadar justru memperkuat ketergantungan hidup di jalan dengan memberi uang secara langsung. Maka, pendekatan edukatif ini sangat penting,” tegasnya.
Sembilan titik lokasi posko pengawasan yang telah dibentuk antara lain berada di kawasan Fly Over, Jalan Pengayoman, Mallengkeri, Pajonga Dg. Ngalle, Jalan Jenderal Sudirman, Sungai Saddang, Masjid Raya Makassar, Pintu 1 Universitas Hasanuddin, dan Simpang Lima Bandara. Titik-titik ini dipilih karena dinilai sebagai wilayah rawan aktivitas jalanan dan sering menjadi lokasi berkumpulnya para anjal dan manusia silver.
Patroli rutin akan terus diintensifkan di kawasan-kawasan tersebut. Menurut Zuhur, keberadaan posko dan patroli ini diharapkan mampu memberikan efek jera serta menjadi bagian dari proses rehabilitasi sosial yang lebih menyeluruh.
“Kami ingin menciptakan kota yang lebih tertib, aman, dan manusiawi. Namun ini tidak bisa dilakukan sendiri, masyarakat harus terlibat dengan tidak mendukung praktik yang justru memperpanjang masalah sosial,” pungkasnya. (ant/KS)




